<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>NOt-e</title>
	<atom:link href="http://herdiasti.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://herdiasti.wordpress.com</link>
	<description>come sit with me</description>
	<lastBuildDate>Mon, 04 Oct 2010 13:33:31 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='herdiasti.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/96f860f507e41af08813b14e65b46c3e?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>NOt-e</title>
		<link>http://herdiasti.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://herdiasti.wordpress.com/osd.xml" title="NOt-e" />
	<atom:link rel='hub' href='http://herdiasti.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Belajar Nge-les ala Dexter, atau Harry&#8217;s Code</title>
		<link>http://herdiasti.wordpress.com/2010/09/13/belajar-nge-les-ala-dexter-atau-harrys-code/</link>
		<comments>http://herdiasti.wordpress.com/2010/09/13/belajar-nge-les-ala-dexter-atau-harrys-code/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 12 Sep 2010 17:20:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agnes Herdiasti</dc:creator>
				<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[film reviews]]></category>
		<category><![CDATA[waton ngomong]]></category>
		<category><![CDATA[Dexter]]></category>
		<category><![CDATA[pembunuh berantai]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://herdiasti.wordpress.com/2010/09/13/belajar-nge-les-ala-dexter-atau-harrys-code/</guid>
		<description><![CDATA[Apa yang bisa dicontoh dari seorang pembunuh berantai? Jelas bukan teknik membunuhnya. Sulit dibayangkan bagaimana mungkin seseorang yang telah menghabisi nyawa banyak orang ini bisa menjadi semacam tokoh panutan. Apakah ada di antara Anda yang menyukai Ryan Jombang, Baekuni alias Babe, atau Robot Gedek? Karena saya percaya jauh lebih banyak orang baik (atau normal?) dibandingkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=herdiasti.wordpress.com&amp;blog=2072696&amp;post=343&amp;subd=herdiasti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://herdiasti.files.wordpress.com/2010/09/dexter_season_3.jpg"><img class="alignnone size-full" title="Dexter" src="http://herdiasti.files.wordpress.com/2010/09/dexter_season_3.jpg?w=520&#038;h=416" alt="don't tell them, k?" width="520" height="416" /></a></p>
<p class="wp-caption-text">
<p>Apa yang bisa dicontoh dari seorang pembunuh berantai? Jelas bukan teknik membunuhnya. Sulit dibayangkan bagaimana mungkin seseorang yang telah menghabisi nyawa banyak orang ini bisa menjadi semacam tokoh panutan. Apakah ada di antara Anda yang menyukai Ryan Jombang, Baekuni alias Babe, atau Robot Gedek? Karena saya percaya jauh lebih banyak orang baik (atau normal?) dibandingkan orang jahat (atau gila?) di dunia ini, saya yakin sebagian besar menjawab “tidak.”  Jadi, mengapa Dexter bisa demikian disayangi? Mengapa film seri tentang seorang tokoh antagonistik dan gelap bisa terus bertahan hingga lima musim dan sampai beberapa kali mendapat nominasi penghargaan Emmy sebagai serial drama terbaik? Rasa penasaran adalah wajar dan alami karena kita sebagai penonton selalu ingin mengintip “apa yang sebenarnya terjadi di dalam bilik gelap seorang pembunuh,” tapi ini bukanlah faktor yang menyebabkan kita jatuh hati kepadanya. Ada hal-hal yang dimiiki Dexter namun tidak dimiliki pembunuh-pembunuh berantai lainnya. Atau, sebaliknya, ada hal-hal yang mereka lakukan yang tegas-tegas tidak dilakukan Dexter. Dexter serupa namun tak sama dengan Robin Hood, si maling budiman, meskipun tidak tepat juga menjulukinya “pembunuh budiman,” karena ia keji dan tanpa ampun terhadap korban-korbannya.</p>
<p><strong>Sedikit mengenai latar belakang Dexter</strong></p>
<p>Dexter Morgan bekerja untuk Kepolisian Metro Miami sebagai pakar forensik dengan spesialisasi analisa cipratan darah (hmm… cipratan darah aja ada sekolahnya!) Adik tirinya, Debra Morgan, adalah detektif di kepolisian itu. Ibu kandung Dexter, Laura Moser tewas mengenaskan dengan cara dimutilasi disaksikan langsung oleh Dexter kecil yang saat itu berumur 3 tahun. Itulah awalnya Dexter diadopsi oleh Harry Morgan, ayah kandung Debra, yang juga seorang polisi. Harry yang sudah mengetahui kecenderungan gelap putra angkatnya (sejak kecil serta merta membunuh anjing tetangga yang tak hentinya menggonggong hingga mengganggu tidur ibunya, juga hewan-hewan lain yang dianggap pengganggu ketentraman), tahu bahwa dirinya tidak punya kuasa untuk menghentikannya. Seiring waktu, naluri membunuh Dexter semakin tumbuh. Satu-satunya yang bisa dilakukan Harry sebagai orangtua adalah menerima kenyataan pahit itu sebagai bagian dari eksistensi putranya. Ia menerapkan semacam manual atau “tatacara membunuh yang baik… eh, maksud saya, efektif dan efisien.”</p>
<p><strong>The Harry’s Code</strong></p>
<p><strong><em>Never do it to a kid</em></strong><br />
Sekriminil-kriminilnya Dexter, dia tidak ada hati untuk melukai anak-anak. Dia dekat dengan anak-anak Rita, sang pacar. Ini mencerminkan pula pola hubungan bapak-anak antara Dexter dan Harry. Di antara trauma-trauma yang dialami di masa kecilnya, sosok Harry hadir sebagai penyeimbang bagi Dexter yang bagaikan keramik, sudah retak sejak tragedi terbunuhnya ibu kandungnya. Dari diri Harry, Dexter merasakan penerimaan yang luar biasa. Maka tidak mengherankan jika Dexter pun memiliki standar serupa terhadap anak-anak. Menyadari bahwa sebuah tragedi dapat mengubah seorang anak kecil tak berdosa menjadi monster, Dexter akan melakukan apa saja untuk melindungi jiwa-jiwa yang masih suci itu. Dan bisa diduga, salah satu korban Dexter adalah golongan “pemangsa” anak-anak alias pedofilia. Jadi, jangan coba-coba samakan dia dengan Robot Gedek atau Babe Baekuni. Mereka justru korban-korban potensial Dex!</p>
<p><strong><em>Killing with a cause</em></strong><br />
Harry tidak mampu menghentikan Dexter untuk menghabisi nyawa orang, tapi ia bisa melarangnya untuk membunuh tanpa alasan yang jelas. <em>“Make sure the world is a little bit better after the crook dies, otherwise, it’s nothing more than murder.”</em> Ya, membunuh orang pun harus ada misinya. Harry hanya mengijinkan Dexter membunuh “sampah masyarakat,” yang hanya akan membuat lebih banyak manusia merana jika dibiarkan hidup. Karena “sampah” maka tempat terbaik bagi mereka adalah kantong-kantong sampah. Bagian akhir dari ritual Dexter adalah membuang kantong-kantong sampah berisi… (Anda tahu berisi apa) ke tengah laut. Tercatat, selain pedofilia, pengedar narkoba, jaksa korup, perawat malpraktik, dan penculik/penjual anak-anak termasuk ke dalam daftar maut Dexter. Kalau Anda disuruh membuat daftar “sampah masyarakat” seperti itu, siapa saja yang ingin sekali Anda masukkan? (Saya punya daftar saya, mungkin kapan-kapan bisa kita cocokkan, siapa tahu ada yang sama…) Maka cukup jelaslah bahwa karakter seperti Dexter adalah simbol angan-angan bawah sadar kita tentang keadilan yang kadang tidak bisa ditegakkan di jalur hukum formal. Begitu banyaknya kejahatan yang tidak tersentuh hukum yang membikin rasa keadilan kita geram dan sekaligus tidak berdaya. Dan bukankah kita diam-diam bersyukur apabila tokoh seperti Dexter benar-benar ada?</p>
<p><strong><em>No matter how you feel, when somebody is taking your photo, SMILE!</em></strong><br />
Justru karena Dexter berbeda, Harry megajarkannya untuk tampil sama seperti orang-orang kebanyakan. Dexter remaja sulit menerima penjelasan Harry mengapa ia harus berpura-pura normal, tetapi Harry meyakinkannya bahwa tidak ada cara lain apabila ingin bertahan hidup dan selamat dari jeratan hukum atas perbuatannya. Semakin dewasa nilai ini makin tertanam dalam dirinya. Walaupun sejak awal menyadari kekosongan dalam dirinya (ia tidak memiliki emosi-emosi sedih, gembira, kehilangan, kekhawatiran sebagaimana yang dirasakan manusia normal, selain dari insting hewaninya), Dexter semakin mahir menjalankan perannya sebagai orang biasa. Ia hidup bersih dari rokok dan narkoba, menjaga hubungan kakak-adik yang sangat baik dengan Debra, menjadi anak yang baik bagi Harry (dalam artian, menuruti sebagian besar nasihat-nasihat Harry), mengencani perempuan baik-baik dan kemudian menikahinya, menjadi ayah dan suami yang baik, menjadi teman yang relatif baik bagi rekan-rekan kerjanya, dan menjalankan profesinya sebagai ahli forensik dengan sangat baik pula. Dexter adalah Dr. Jekyll dan Mr. Hyde, menjalani kehidupan gandanya dengan nyaris sempurna. <em>Nyaris</em>, karena dalam perjalanan hidupnya, Dexter bertemu dengan tokoh-tokoh yang begitu dekatnya dengan penyingkapan tabir jati dirinya yang sebenarnya, yang berarti mengancam ke-”normal”-annya. Di Season I dari serial<em> Dexter</em>, ada “the ice truck killer” yang tak lain adalah kakak kandung Dexter, yang sama-sama mengalami trauma kematian sang ibu. Di Season II, ada Detektif Doakes yang selalu mencurigai gerak langkahnya, dan Lila, wanita neurotik yang merasa diri belahan jiwa Dexter. Di Season III ada Miguel Prado, jaksa penuntut kenamaan yang sempat menjadi partner kejahatan Dexter. Lalu, di Season IV ada Trinity, pembunuh berantai yang berhasil merangsek masuk ke sisi kehidupan normal Dexter dan menghabisi nyawa istrinya. Semua nama tersebut, terkecuali Doakes, berakhir di dasar laut di dalam kantong-kantong sampah.</p>
<p>Faktor Harry’s Code atau Nilai-nilai Harry yang diterapkan Dexter-lah yang menjadikannya memiliki kualitas manusiawi yang tetap terpelihara. Meskipun Dexter terkesan datar, dingin, tanpa emosi, ada saat-saat di mana kita tersentuh oleh kata-kata dan perbuatannya, terutama terhadap Debra, Rita, dan anak-anaknya. Menjalani kehidupan ganda itu seorang diri setelah kematian Harry, membuatnya menjadi karakter soliter, menanggung segala beban dan di saat yang bersamaan harus menjadi “normal,” yang tidak terhindarkan menerbitkan rasa kasihan kita kepadanya. Faktor lain, dan ini yang sebenarnya lebih menakutkan, adalah sifat pendendam yang sedikit-banyak ada di dalam diri kita masing-masing “mengijinkan” kita untuk menantikan aksi-aksi Dexter. <em>Kita ingin orang-orang jahat itu mati!</em> Bukankah itu sangat manusiawi/hewani?</p>
<p>Posted with WordPress for BlackBerry.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/herdiasti.wordpress.com/343/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/herdiasti.wordpress.com/343/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/herdiasti.wordpress.com/343/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/herdiasti.wordpress.com/343/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/herdiasti.wordpress.com/343/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/herdiasti.wordpress.com/343/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/herdiasti.wordpress.com/343/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/herdiasti.wordpress.com/343/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/herdiasti.wordpress.com/343/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/herdiasti.wordpress.com/343/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/herdiasti.wordpress.com/343/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/herdiasti.wordpress.com/343/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/herdiasti.wordpress.com/343/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/herdiasti.wordpress.com/343/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=herdiasti.wordpress.com&amp;blog=2072696&amp;post=343&amp;subd=herdiasti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://herdiasti.wordpress.com/2010/09/13/belajar-nge-les-ala-dexter-atau-harrys-code/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/912cb196c92f7d44704c64e4b870d796?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">theatredarling</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://herdiasti.files.wordpress.com/2010/09/dexter_season_3.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Dexter</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Eat Pray Love&#8230; a white woman&#8217;s perspective as seen by a cappucino brown woman</title>
		<link>http://herdiasti.wordpress.com/2010/08/01/eat-pray-love-a-white-womans-perspective-as-seen-by-a-cappucino-brown-woman/</link>
		<comments>http://herdiasti.wordpress.com/2010/08/01/eat-pray-love-a-white-womans-perspective-as-seen-by-a-cappucino-brown-woman/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Aug 2010 12:20:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agnes Herdiasti</dc:creator>
				<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[film]]></category>
		<category><![CDATA[indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[jurnal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://herdiasti.wordpress.com/2010/08/01/eat-pray-love-a-white-womans-perspective-as-seen-by-a-cappucino-brown-woman/</guid>
		<description><![CDATA[Finally, I managed to have a copy of this novel! Setelah rekomendasi dari seorang kerabat yang mengatakan bahwa saya harus membaca memoir Elizabeth Gilbert lebih dari setahun yang lalu. Terus terang ada rasa enggan untuk membaca sesuatu yang &#8220;saya rasa saya tahu maknanya,&#8221; just because saya sedikit banyak mengalami apa yang dialami oleh Ms. Gilbert. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=herdiasti.wordpress.com&amp;blog=2072696&amp;post=332&amp;subd=herdiasti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://coverawards.com/wp-content/uploads/2010/06/eat-pray-love-poster550x815.jpg"></a><br />
<em>Finally, I managed to have a copy of this novel!</em> Setelah rekomendasi dari seorang kerabat yang mengatakan bahwa saya harus membaca memoir Elizabeth Gilbert lebih dari setahun yang lalu. Terus terang ada rasa enggan untuk membaca sesuatu yang &#8220;saya rasa saya tahu maknanya,&#8221; <em>just because</em> saya sedikit banyak mengalami apa yang dialami oleh Ms. Gilbert. Saya akhirnya membeli novel ini di Gramedia minggu lalu karena (1) ada edisi Penguin yang harganya jauh lebih murah dengan sampul Julia Roberts yang sedang duduk di bangku sambil makan frozen yoghurt; (2) ego sok elitis saya nggak membolehkan saya menonton filmnya kelak tanpa membaca sumbernya terlebih dahulu; dan (3) Bali menjadi salah satu unsur terpenting dari kisah itu, dan saya tinggal di Bali pula, maka saya harus membacanya demi untuk bisa mendiskusikannya dengan objektif dengan siapa saja kelak (ambisius sekaleee!). Dan ini sedikit saja catatan pribadi saya mengenai novel 400-an halaman itu:</p>
<p>1. Bagian pertama, Italy, adalah bagian yang paling menyenangkan untuk diikuti. Ms Gilbert benar-benar menulis dengan ringan dan deskripsinya tentang pasta, pizza, dan ungkapan-ungkapan ekspresif dari bahasa Italia sangat jenaka. <em>Figlio di mignotta!</em></p>
<p>2. Bagian kedua, India, adalah bagian yang agak membosankan justru karena di sinilah periode pencarian spiritualitas Elizabeth yang paling intens. Kebosanan dan frustrasi juga yang dialami si tokoh sentral, seiring godaan untuk menyerah yang paralel dengan keinginan besar saya untuk segera lompat ke bagian ketiga, Indonesia. Tapi bagian ini pula yang bisa membuat saya menangis, tepatnya saat Elizabeth berdiri di atap ashram dan menemukan dirinya memaafkan mantan suaminya dan dirinya sendiri.</p>
<p>3. Bagian ketiga, Indonesia, ternyata bukan favorit saya. Mungkin karena saya berharap terlalu banyak, mentang-mentang saya tinggal di lokasi yang menjadi simbol keseimbangan di novel EPL. Pertama, Ms. Gilbert terkesan terburu-buru, sehingga tokoh-tokoh yang mewarnai bagian ini menjadi kurang berkembang. Kedua, perspektif &#8220;kulit putih&#8221; Gilbert mau nggak mau sedikit melukai ke-the other-an saya. Tokoh Wayan, Yudhi, bahkan Ketut Liyer &#8220;dirasani&#8221; sedemikian rupa layaknya manusia-manusia negara dunia ketiga yang tidak setara dengan subjek pembicara. </p>
<p>4. Saya rasa sebagian orang akan resisten terhadap novel-novel bertema pencarian spiritual seperti EPL. Hanya mereka yang meimiliki pengalaman serupa yang akan mengamini, yang lain mungkin akan berhenti membaca tepat di halaman di mana tokoh Elizabeth mulai berdoa di lantai kamar mandi.<br />
Seindah-indahnya pengalaman spiritual seseorang, keindahan itu belum tentu indah pula bagi orang lain. (Di sini saya membayangkan reaksi sahabat saya, Daniel yang agnostik itu, bila saya paksa membaca EPL. Seumur hidupnya dia tidak akan lagi sudi bicara sama saya!)</p>
<p>5. Ms. Gilbert tetaplah seorang elitis dalam pencarian spiritualnya. Tidak semua orang yang seterpuruk itu bisa beruntung menemukan Guru dari India, lalu bisa membiayai dirinya untuk melakukan perjalanan spiritual yang punya rute: Italia, India dan bersekolah di ashram sang Guru yang elit itu, dan terakhir, Bali! Agak sulit membayangkan Elizabeth Gilbert sebagai orang yang merana saat itu. Hehe.. </p>
<p>Kesimpulannya, <em>Eat Pray Love</em> lumayan lah untuk refleksi, tapi bukanlah novel favorit saya. Jauhlah bila dibandingkan tulisan-tulisan memoir Plath. Tapi saya ingin sekali nonton filmnya karena ada Julia Roberts, Javier Bardem, Billy Crudup, dan salah satu lokasinya di&#8230; Bali!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/herdiasti.wordpress.com/332/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/herdiasti.wordpress.com/332/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/herdiasti.wordpress.com/332/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/herdiasti.wordpress.com/332/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/herdiasti.wordpress.com/332/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/herdiasti.wordpress.com/332/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/herdiasti.wordpress.com/332/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/herdiasti.wordpress.com/332/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/herdiasti.wordpress.com/332/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/herdiasti.wordpress.com/332/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/herdiasti.wordpress.com/332/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/herdiasti.wordpress.com/332/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/herdiasti.wordpress.com/332/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/herdiasti.wordpress.com/332/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=herdiasti.wordpress.com&amp;blog=2072696&amp;post=332&amp;subd=herdiasti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://herdiasti.wordpress.com/2010/08/01/eat-pray-love-a-white-womans-perspective-as-seen-by-a-cappucino-brown-woman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/912cb196c92f7d44704c64e4b870d796?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">theatredarling</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pay it forward (bukan judul film)</title>
		<link>http://herdiasti.wordpress.com/2010/07/19/pay-it-forward-bukan-judul-film/</link>
		<comments>http://herdiasti.wordpress.com/2010/07/19/pay-it-forward-bukan-judul-film/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Jul 2010 12:12:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agnes Herdiasti</dc:creator>
				<category><![CDATA[1]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://herdiasti.wordpress.com/?p=273</guid>
		<description><![CDATA[Pagi ini saya membuka-buka album foto teman saya di Facebook. Lokasi: Lawrence, Kansas, AS. Tentu saja membangkitkan perasaan yang bercampur-aduk. Wajah-wajah lama yang dulu selalu tertawa dan menghabiskan malam-malam, sore-sore, pagi-pagi bersama&#8230; di downtown Lawrence, di perpustakaan, di Henry&#8217;s, dirumah Susy&#8230;. Tetapi ada pula wajah-wajah yang tidak saya kenal yang membuat saya sedikit merasa cemburu. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=herdiasti.wordpress.com&amp;blog=2072696&amp;post=273&amp;subd=herdiasti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pagi ini saya membuka-buka album foto teman saya di Facebook. Lokasi: Lawrence, Kansas, AS. Tentu saja membangkitkan perasaan yang bercampur-aduk. Wajah-wajah lama yang dulu selalu tertawa dan menghabiskan malam-malam, sore-sore, pagi-pagi bersama&#8230; di downtown Lawrence, di perpustakaan, di Henry&#8217;s, dirumah Susy&#8230;. Tetapi ada pula wajah-wajah yang tidak saya kenal yang membuat saya sedikit merasa cemburu. Ah&#8230; andai saya juga berada di sana.</p>
<p>Mas Takaaki ada di antara wajah-wajah itu. Laki-laki Jepang yang pernah tinggal di Indonesia lebih sepuluh tahun yang lalu. Bukan apa, tapi ada kenangan tersendiri mengenai orang ini. Dialah orangnya yang mengantarkan kepergian saya untuk pulang kembali ke Indonesia setelah 2 tahun studi saya di AS selesai. </p>
<p>Butuh waktu 2 jam untuk menempuh jarak dari kota Lawrence menuju bandara di Kansas City. Setengah perjalanan saya tertidur karena kelelahan menangis. Biasalah, efek perpisahan dengan teman-teman baik&#8230; those beautiful souls&#8230; yang mungkin untuk selamanya. Saya terbangun karena mendengar Mas Takaaki berulang-ulang mengeluh sendiri, &#8220;Arrgggh!! Arrgghh!!!&#8221;</p>
<p>&#8220;Ada apa?&#8221; tanya saya.<br />
&#8220;Bensinnya hampir habis!&#8221;<br />
Deg! Bukan apa, gas station di sana tidak bertebaran di setiap sudut seperti di sini. Saya melirik jam, 2 setengah jam sebelum keberangkatan. </p>
<p>Tiba-tiba Mas Takaaki ambil belokan ke kanan. Padahal bandaranya jalan lurus.</p>
<p>&#8220;Hey, mau kemana nih?&#8221; Tanya saya agak panik.<br />
&#8220;Nggg&#8230; Siapa tahu ada pompa bensin di sekitar sini,&#8221; jawab Mas Tak nggak kalah panik.</p>
<p>Siapa tahu? Of course. But, dude, we&#8217;re in the middle of nowhere! Sepanjang mata memandang cuma ada hamparan tanah lapang berumput hijau. Sesekali terlihat sapi-sapi pada merumput, dan jarang sekali terlihat ada bangunan rumah maupun manusia. Ya ampuuun&#8230; Mana ada pompa bensin di tempat seperti ini, nenek? Rasanya sudah kepingin nangis. Kebayang kalau mobil mogok di tengah jalan dan pesawat pulang ke tanah air nggak terkejar? Masa mau naik sapi? Baik saya dan Mas Takaaki cuma bisa kelu.</p>
<p>Tiba-tiba di kanan jalan ada satu rumah tua. Ahhh, harapan! Paling tidak kami bisa mendapat informasi di mana ada pompa bensin terdekat. Mas Tak menghentikan mobil. Kami berjalan memasuki halaman. Ada perahu mesin diparkir di depan pintu. Sepasang oma-opa duduk di beranda rumah yang segera menyambut kami dengan keramahtamahan khas midwesterner. Mereka adalah sepasang malaikat yang Tuhan kirim untuk saya siang itu.</p>
<p>Tidak ada pompa bensin yang cukup dekat untuk bisa kami tempuh. Kami tidak membutuhkan pompa bensin lagi. Pasangan tua yang baik hati itu memberikan bensin yang masih tersisa di dalam tangki perahunya untuk kami, cukup untuk melanjutkan perjalanan ke bandara. </p>
<p>&#8220;Berapa yang harus kami bayar untuk semua ini?&#8221; tanya saya.<br />
&#8220;No need to pay us anything. Just helping another person in need will do,&#8221; jawab si Oma. </p>
<p>Singkat cerita, Mas Takaaki berhasil mengantarkan saya menuju pintu gerbang kepulangan saya. Saya peluk dia dengan rasa haru. Dia kelu dan dengan gerakan kaku membalas pelukan saya. Domo arigato, matur nuwun sanget njih, Mas! </p>
<p>Sampai hari ini saya masih menyimpan janji saya kepada sepasang malaikat dari Kansas itu. Pay it forward. </p>
<p>This is for all beautiful souls I&#8217;ve met in my life&#8217;s journey thus far.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/herdiasti.wordpress.com/273/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/herdiasti.wordpress.com/273/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/herdiasti.wordpress.com/273/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/herdiasti.wordpress.com/273/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/herdiasti.wordpress.com/273/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/herdiasti.wordpress.com/273/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/herdiasti.wordpress.com/273/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/herdiasti.wordpress.com/273/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/herdiasti.wordpress.com/273/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/herdiasti.wordpress.com/273/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/herdiasti.wordpress.com/273/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/herdiasti.wordpress.com/273/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/herdiasti.wordpress.com/273/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/herdiasti.wordpress.com/273/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=herdiasti.wordpress.com&amp;blog=2072696&amp;post=273&amp;subd=herdiasti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://herdiasti.wordpress.com/2010/07/19/pay-it-forward-bukan-judul-film/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/912cb196c92f7d44704c64e4b870d796?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">theatredarling</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hey, love!</title>
		<link>http://herdiasti.wordpress.com/2010/07/19/hey-love/</link>
		<comments>http://herdiasti.wordpress.com/2010/07/19/hey-love/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Jul 2010 18:42:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agnes Herdiasti</dc:creator>
				<category><![CDATA[narcissistic]]></category>
		<category><![CDATA[waton ngomong]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://herdiasti.wordpress.com/2010/07/19/hey-love/</guid>
		<description><![CDATA[Sudah kurang lebih setahun sejak postingan saya yang terakhir. Selama itu sudah ritme dan corak kehidupan saya berubah. Saya bukan lagi si kutu laptop yang siang-malam mantengin monitor Jeffrey, macbook saya yang sekarang sudah hidup segan, mati tak mau. Bukan. Ini bukanlah bad news bagi saya. Lebih dari setengah tahun pekerjaan saya yang sekarang sebagai [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=herdiasti.wordpress.com&amp;blog=2072696&amp;post=316&amp;subd=herdiasti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sudah kurang lebih setahun sejak postingan saya yang terakhir. Selama itu sudah ritme dan corak kehidupan saya berubah. Saya bukan lagi si kutu laptop yang siang-malam mantengin monitor Jeffrey, macbook saya yang sekarang sudah hidup segan, mati tak mau. Bukan. Ini bukanlah bad news bagi saya. Lebih dari setengah tahun pekerjaan saya yang sekarang sebagai guest relations di sebuah hotel berbintang tidak mengharuskan saya mengintimi laptop. Di tempat kerja, saya lebih banyak menghadapi manusia-manusia nyata dengan aneka ragam kebutuhan mereka, dan bukan urusan researching dan resourcing. Buka email saja kadang tidak sempat. Blackberry pun menjadi lebih relevan bagi saya dibandingkan komputer jinjing. Itu terjadi secara alami.</p>
<p>Jadi apa yang menyebabkan saya menulis lagi? Adalah Blackberry Messenger dan seorang sahabat lama, Lani Setyadi, yang secara &#8220;efek bola sodok&#8221; membangkitkan insting ngecap di tulisan yang mati suri itu. Maklum, sudah lebih 10 tahun kami nggak ketemu, jadi ingatan Lani tentang saya masihlah saya yang penulis-wannabe, penyair amatir (aka pembual romantis), yang lumayan kreatif tapi malu-malu itu. Saya katakan padanya, bahwa saya sudah memilih &#8220;hidup normal&#8221;, jadi manusia biasa yang praktis. Kebetulan saya barusan nonton &#8220;The Hours&#8221;, film yang sukses membawa Nicole Kidman menjadi aktris terbaik Oscar karena perannya sebagai Virginia Woolf. Yah, Mrs. Woolf, seperti juga Sylvia Plath, adalah jiwa-jiwa kreatif yang sakit dan gelisah. Sepersekian persen dari yang mereka miliki pernah saya alami juga. It was just unbearably painful! Jadi, seperti kata Woolf, &#8220;The poet has to die.&#8221; Saya juga membunuh kecenderungan itu dalam diri saya demi ketenangan dan keseimbangan.</p>
<p>Mati kah? Not entirely, rupanya. Terbukti saya kembali ke blog lama saya ini, mengutak-atik password saya belasan kali karena saya sudah lupa, mendownload aplikasi WordPress for BB, dan yah, saya menulis lagi. Bedanya saya dengan Plath, Woolf, dan the old version of my art, adalah bahwa saya tidak sehebat mereka (thank God!), dan saya berhasil melewati nadir saya, sementara mereka memilih untuk abadi di dalam kesakitan/keindahan mereka yang absolut. </p>
<p>Anyways, thanks ya, Cik Lan, for reminding me not to shut down this talent altogether. Saya masih menulis. Kalau ada waktu saya yang tersisa. <img src='http://s1.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />  </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/herdiasti.wordpress.com/316/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/herdiasti.wordpress.com/316/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/herdiasti.wordpress.com/316/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/herdiasti.wordpress.com/316/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/herdiasti.wordpress.com/316/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/herdiasti.wordpress.com/316/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/herdiasti.wordpress.com/316/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/herdiasti.wordpress.com/316/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/herdiasti.wordpress.com/316/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/herdiasti.wordpress.com/316/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/herdiasti.wordpress.com/316/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/herdiasti.wordpress.com/316/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/herdiasti.wordpress.com/316/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/herdiasti.wordpress.com/316/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=herdiasti.wordpress.com&amp;blog=2072696&amp;post=316&amp;subd=herdiasti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://herdiasti.wordpress.com/2010/07/19/hey-love/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/912cb196c92f7d44704c64e4b870d796?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">theatredarling</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Profiling Ancaman Bom</title>
		<link>http://herdiasti.wordpress.com/2009/08/22/profiling-ancaman-bom/</link>
		<comments>http://herdiasti.wordpress.com/2009/08/22/profiling-ancaman-bom/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 22 Aug 2009 09:42:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agnes Herdiasti</dc:creator>
				<category><![CDATA[waton ngomong]]></category>
		<category><![CDATA[ancaman bom]]></category>
		<category><![CDATA[densus 88]]></category>
		<category><![CDATA[terorisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://herdiasti.wordpress.com/?p=309</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini untuk kedua kalinya hotel kami mengundang Bapak Kom. Pol. Suharli dari Densus 88 Polda Bali, untuk memberikan training tentang antisipasi ancaman bom kepada staf hotel. Beliau membawa seorang asisten yang berperawakan tinggi besar, berjaket hitam, dan wajahnya kusam dengan jenggot kambing jarang-jarang. Kalau &#8220;law of attraction&#8221; juga berlaku di sini, inilah kasus di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=herdiasti.wordpress.com&amp;blog=2072696&amp;post=309&amp;subd=herdiasti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari ini untuk kedua kalinya hotel kami mengundang Bapak Kom. Pol. Suharli dari Densus 88 Polda Bali, untuk memberikan training tentang antisipasi ancaman bom kepada staf hotel. Beliau membawa seorang asisten yang berperawakan tinggi besar, berjaket hitam, dan wajahnya kusam dengan jenggot kambing jarang-jarang. Kalau &#8220;law of attraction&#8221; juga berlaku di sini, inilah kasus di mana sulit untuk membedakan mana si pemburu dan mana yang diburu, karena keduanya sama-sama berhawa &#8220;surem.&#8221; Kenapa Pak Suharli membawa asisten? Ternyata selain untuk membantunya dalam teknis presentasi, pak asisten juga bertugas menjadi dokumentator acara tersebut. Selain menyimpan catatan nama-nama para peserta pelatihan itu, sesekali jepretan kamera diarahkan ke muka -muka kami. Tujuannya utamanya bukan untuk kenang-kenangan, apalagi di-upload di FB seperti kebiasaan sebagian dari kita (&#8216;kita&#8217;??? gue kaleee&#8230;). Dengan kelugasannya yang mematikan, Pak Suharli mengatakan, &#8220;Apabila hotel ini dibom, kami akan melihat kembali foto-foto training ini, siapa tahu pelakunya salah seorang dari Anda.&#8221; Betul juga, bukankah Ibrohim juga seorang florist di salah satu hotel itu? Hahaha&#8230; Kami ketawa dengan pahit, sambil lirik sana-sini, mencari muka-muka mencurigakan, sekaligus mengernyit kecut &#8220;weits, jangan-jangan mereka juga mencurigai saya ya?&#8221;</p>
<p>Pak Suharli memberikan ilustrasi. Silahkan posisikan diri Anda sebagai seorang operator sebuah kantor, dan Anda menerima telepon dari seorang pria sebagai berikut:</p>
<p>&#8220;Selamat pagi, Mbak, benar ini Hotel X? [dijawab] Begini, nanti sekitar jam dua siang saya akan memasang bom di hotel Mbak.&#8221;</p>
<p>Kira-kira apa dan bagaimana reaksi Anda?</p>
<p>Pak Suharli menganjurkan untuk melakukan profiling. Tentu saja ini perlu kecermatan dan ketenangan. Anda harus meneliti unsur-unsur Paralinguistik (bagi Anda yang suka linguistik) atau &#8216;subtext&#8217; (bagi Anda yang suka drama) dan tekstur-tekstur nonverbal dari si peneror yang ramah tamah itu, sebelum Anda panik dan berteriak &#8220;Ada BOM!&#8221; atau malah ngompol di tempat. Misalnya, 1. mau neror tapi ramah banget, pakai salam sejahtera pula (subtext: masih punya sopan santun dan rasa sungkan); 2. &#8220;Benar ini hotel X?&#8221; (yeee&#8230; teroris sejati apa bukan? Masa target sendiri masih diragukan?); 3. Jam 2 siang saya akan memasang bom (berarti belum kan, mas?) Selain itu masih menurut si Bapak yang mengakui dirinya mirip Crayon Shin-Can itu, kita perlu mengidentifikasi secara cepat, berapa kira-kira umur si penelepon, apakah nada suaranya tegas, ragu, tegang, atau tenang, selain juga mencermati suara latar yang menyertai (misalnya ada musik, bunyi klakson, dll).</p>
<p>Wah, seru juga ya. Mengingatkan saya akan teknik-teknik analisa karakter sewaktu saya mengambil kuliah Drama dulu.</p>
<p>Dua jam pelatihan hari itu pun selesai. Ternyata keseraman Pak Suharli dan asistennya sedikit luntur saat kami menjamu mereka minum kopi di ruangan saya. Iseng saya tanya apakah mereka ikut dalam pengepungan di Temanggung tempo hari, ternyata tidak (agak kecewa juga nih, Pak! hihihihi). Biarpun demikian,  Pak Asisten yang ternyata murah senyum itu ikut dalam pengepungan sebelumnya yang terjadi di Malang yang menewaskan Dr. Azahari. Sewaktu akan pulang, kami pun berjabat tangan.  &#8220;Ok lah, Mbak Maia, kami pulang dulu,&#8221; kata Pak Suka Hari Libur ini. Kok Maia?? Menurutnya, saya &#8230; ehem&#8230; mirip Maia Estianty. Ih&#8230; kaga nyambung nih. Biarin lah, yang penting, jaga kewaspadaan! MERDEKA!!!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/herdiasti.wordpress.com/309/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/herdiasti.wordpress.com/309/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/herdiasti.wordpress.com/309/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/herdiasti.wordpress.com/309/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/herdiasti.wordpress.com/309/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/herdiasti.wordpress.com/309/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/herdiasti.wordpress.com/309/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/herdiasti.wordpress.com/309/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/herdiasti.wordpress.com/309/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/herdiasti.wordpress.com/309/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/herdiasti.wordpress.com/309/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/herdiasti.wordpress.com/309/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/herdiasti.wordpress.com/309/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/herdiasti.wordpress.com/309/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=herdiasti.wordpress.com&amp;blog=2072696&amp;post=309&amp;subd=herdiasti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://herdiasti.wordpress.com/2009/08/22/profiling-ancaman-bom/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/912cb196c92f7d44704c64e4b870d796?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">theatredarling</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Your smile is genuine!</title>
		<link>http://herdiasti.wordpress.com/2009/01/28/your-smile-is-genuine/</link>
		<comments>http://herdiasti.wordpress.com/2009/01/28/your-smile-is-genuine/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Jan 2009 06:04:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agnes Herdiasti</dc:creator>
				<category><![CDATA[culture]]></category>
		<category><![CDATA[english]]></category>
		<category><![CDATA[jurnal]]></category>
		<category><![CDATA[narcissistic]]></category>
		<category><![CDATA[waton ngomong]]></category>
		<category><![CDATA[smile]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://herdiasti.wordpress.com/?p=304</guid>
		<description><![CDATA[There are ways that married men do to make single women smile, not to mention at a work place. This guy is a colleague of mine and he just learned the word fake a couple of days ago. Then, by himself, he managed to find some words whose meanings opposite to that word.  This morning [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=herdiasti.wordpress.com&amp;blog=2072696&amp;post=304&amp;subd=herdiasti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>There are ways that married men do to make single women smile, not to mention at a work place. This guy is a colleague of mine and he just learned the word <em>fake</em> a couple of days ago. Then, by himself, he managed to find some words whose meanings opposite to that word.  This morning for some (decent) reason, he took my picture while I was working with my computer. He said he needed it because I will move to another company in less than 2 weeks. Then, he emailed the picture he just took to me.  I opened and there he wrote, under my picture, &#8220;Your smile is genuine!&#8221; Who doesn&#8217;t smile at this cheap, silly flirtation. That was perhaps the best he could do to us.</p>
<p>These married men. What they wished they could do, but couldn&#8217;t.  So why not have a little fun with these &#8220;unbroken rules.?&#8221; <em>Why don&#8217;t you go out with me for a date? Hello, gorgeous. Oh, Monica&#8230; I dare not call you Agnes after my neighbor&#8217;s sickly dog.</em>  You will be driven to madness if you feel sick of all of these shits they&#8217;re telling you.  It doesn&#8217;t hurt, really, to allow these poor fellows some fresh air. Who doesn&#8217;t like attention?</p>
<p>These tame, sweet, adorable married men. Trust me, they know their place. Like knowing you&#8217;re out of their league. Well, only one in 1oo cases they would try to break the rules by doing things you&#8217;d despise. I was stalked by one of my male colleagues once &#8211; and since then we haven&#8217;t talked to each other. That&#8217;s the penalty for wanting more than you could afford. The other married men and I can entertain each other by our mere presence and a huge dose of joy.</p>
<p>These married men make me smile. <em>Can I borrow your computer since I can&#8217;t borrow you?</em> And although I don&#8217;t have Julia Roberts&#8217; firts-rate big smile, I smile, <em>genuinely</em>.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/herdiasti.wordpress.com/304/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/herdiasti.wordpress.com/304/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/herdiasti.wordpress.com/304/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/herdiasti.wordpress.com/304/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/herdiasti.wordpress.com/304/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/herdiasti.wordpress.com/304/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/herdiasti.wordpress.com/304/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/herdiasti.wordpress.com/304/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/herdiasti.wordpress.com/304/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/herdiasti.wordpress.com/304/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/herdiasti.wordpress.com/304/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/herdiasti.wordpress.com/304/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/herdiasti.wordpress.com/304/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/herdiasti.wordpress.com/304/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=herdiasti.wordpress.com&amp;blog=2072696&amp;post=304&amp;subd=herdiasti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://herdiasti.wordpress.com/2009/01/28/your-smile-is-genuine/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/912cb196c92f7d44704c64e4b870d796?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">theatredarling</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Under the Tree: not so refreshing!</title>
		<link>http://herdiasti.wordpress.com/2009/01/15/under-the-tree-not-so-refreshing/</link>
		<comments>http://herdiasti.wordpress.com/2009/01/15/under-the-tree-not-so-refreshing/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Jan 2009 01:07:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agnes Herdiasti</dc:creator>
				<category><![CDATA[akting]]></category>
		<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[film reviews]]></category>
		<category><![CDATA[indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[Garin Nugroho]]></category>
		<category><![CDATA[Under the Tree]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://herdiasti.wordpress.com/?p=296</guid>
		<description><![CDATA[Hari Sabtu kemarin saya beruntung dapat undangan nonton gratis premiere film Di Bawah Pohon atau Under the Tree arahan Garin Nugroho. Garin dan sebagian besar cast utama menghadiri acara tersebut &#8211; Dwi Sasono, Ayu Laksmi, Ikranegara, tentu saja minus Marcella Zalianty yang sedang terbelit kasus itu. Sebelum itu, saya sudah diwanti-wanti seorang teman yang terlibat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=herdiasti.wordpress.com&amp;blog=2072696&amp;post=296&amp;subd=herdiasti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="mceTemp">
<div class="wp-caption alignnone" style="width: 210px"><img src="http://www.thejakartapost.com/files/images/p21-b-1_7.img_assist_custom.jpg" alt="Under The Tree by Garin NUgroho" width="200" height="299" /><p class="wp-caption-text">Under The Tree by Garin NUgroho</p></div>
</div>
<div class="mceTemp">Hari Sabtu kemarin saya beruntung dapat undangan nonton gratis premiere film Di Bawah Pohon atau <a href="http://www.tiff08.ca/filmsandschedules/films/underthetree" target="_blank"><em>Under the Tree</em> </a>arahan Garin Nugroho. Garin dan sebagian besar cast utama menghadiri acara tersebut &#8211; Dwi Sasono, Ayu Laksmi, Ikranegara, tentu saja minus Marcella Zalianty yang sedang terbelit kasus itu.</div>
<p>Sebelum itu, saya sudah diwanti-wanti seorang teman yang terlibat pembuatan film tersebut, bahwa UT bertempo lambat (atau dalam bahasa awam: membosankan). Tapi siapa yang tak kenal signature Garin yang satu itu? Dia bisa menampilkan satu gambar orang menyapu halaman yang luas selama bermenit-menit. Mungkin saking luasnya halamannya ya? Dan betul saja, di UT ada adegan <em>nyapu latar</em> lagi yang lumayan lama. Dalam adegan itu memang terbangun suasana yang ingin digarisbawahi. Emosi-emosi yang tidak terwakili kata-kata. UT ingin menyuarakan emosi-emosi tertahan tentang hubungan anak dan ibu yang tidak pernah sesederhana apa yang digariskan norma dan nilai moralitas. Ketika seorang ibu melakukan hal yang secara normatif layak dikutuk, sementara sang anak, diatur oleh norma yang sama, dilarang mengutuki ibunya sendiri &#8211; di situlah lahir konflik tak berkesudahan.</p>
<p>Tapi. Penonton yang sudah tahu emosi dan suasana itu lama-lama bisa merasa risih juga, jika disuguhi hal yang sama berulang kali dan dalam durasi yang lamanya hampir tak tertahankan. Banyak komentar yang saya dengar, seperti <em>&#8220;Alright, I got the message, why do you keep telling me the same thing?&#8221;</em> Seperti anak sekolah yang sudah mengerti cara kerja satu rumus, tapi terus-menerus disuruh mengerjakan soal serupa. Anak yang cerdas, mungkin akan jalan-jalan mengganggu temannya, anak yang biasa-biasa akan gelisah, sedang anak yang &#8216;lemah&#8217; akan tertidur.</p>
<p>Dari segi permainan, Ikranegara masih tetap konsisten. Ayu Laksmi tampil memikat dengan akting naturalnya. Cuma sayangnya, banyak adegannya yang bernada sama dan cenderung berlama-lama. Marcella Zalianty tidak mampu mengembangkan karakternya dengan pola-pola ekspresi wajah dan nada bicara yang statis. Tapi nada tersumbang ada pada Nadia Saphira yang tampil amatir dengan akting kolokan kodian yang kontras dengan dialog berbunga yang seperti tidak &#8220;sejiwa&#8221; dengan image karakternya.</p>
<p>Mungkin Garin perlu memikirkan metode lain yang lebih melibatkan partisipasi penonton. Tidak bisa tidak, penonton harus diperhitungkan dalam pembuatan sebuah karya. Maksud saya, setiap sineas punya pilihan juga signature yang ingin ia torehkan di dalam karyanya. Saya sendiri termasuk penggemar film-film bertempo relatif lambatnya Anthony Minghella atau film-film Inggris pada umumnya, tapi saya ternyata kurang sabar dengan film Garin yang satu ini. Menurut saya Garin mem-<em>push </em>penontonnya terlalu jauh melebihi batas toleransi, nyaris tanpa jeda. Atau siapakah sebenarnya penonton Garin? Mungkin dia memang sudah tahu kelompok penonton tertentu yang bisa menikmati karyanya dengan lega dan tanpa gerutu.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/herdiasti.wordpress.com/296/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/herdiasti.wordpress.com/296/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/herdiasti.wordpress.com/296/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/herdiasti.wordpress.com/296/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/herdiasti.wordpress.com/296/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/herdiasti.wordpress.com/296/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/herdiasti.wordpress.com/296/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/herdiasti.wordpress.com/296/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/herdiasti.wordpress.com/296/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/herdiasti.wordpress.com/296/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/herdiasti.wordpress.com/296/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/herdiasti.wordpress.com/296/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/herdiasti.wordpress.com/296/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/herdiasti.wordpress.com/296/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=herdiasti.wordpress.com&amp;blog=2072696&amp;post=296&amp;subd=herdiasti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://herdiasti.wordpress.com/2009/01/15/under-the-tree-not-so-refreshing/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/912cb196c92f7d44704c64e4b870d796?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">theatredarling</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.thejakartapost.com/files/images/p21-b-1_7.img_assist_custom.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Under The Tree by Garin NUgroho</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Take yourself lightly</title>
		<link>http://herdiasti.wordpress.com/2009/01/13/take-yourself-lightly/</link>
		<comments>http://herdiasti.wordpress.com/2009/01/13/take-yourself-lightly/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Jan 2009 07:20:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agnes Herdiasti</dc:creator>
				<category><![CDATA[waton ngomong]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://herdiasti.wordpress.com/?p=290</guid>
		<description><![CDATA[Mungkin saya orang yang paling tidak konsekuen karena sering mengatakan hal itu, dan sering pula melanggarnya: terkadang masih terlalu kenceng dan serius dalam bereaksi. Contohnya soal perpanjangan KTP tempo hari. Karena berada di Bali sementara KTP Jogja, jadilah saya merepotkan banyak orang dan kelabakan sendiri karenanya. Saya kenceng, mereka tak kalah kenceng. Jadinya? Bubar. KTP [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=herdiasti.wordpress.com&amp;blog=2072696&amp;post=290&amp;subd=herdiasti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mungkin saya orang yang paling tidak konsekuen karena sering mengatakan hal itu, dan sering pula melanggarnya: terkadang masih terlalu <em>kenceng</em> dan serius dalam bereaksi. Contohnya soal perpanjangan KTP tempo hari. Karena berada di Bali sementara KTP Jogja, jadilah saya merepotkan banyak orang dan kelabakan sendiri karenanya. Saya kenceng, mereka tak kalah kenceng. Jadinya? Bubar. KTP tak terurus hingga sekarang. Belum.</p>
<p>Selang berhari-hari, KTP tetap belum diurus, tapi saya ingat kembali untuk menyikapi hidup dengan santai dan gembira. Toh sudah banyak hal yang ada dalam genggaman saya, kenapa tidak bersantai sejenak? Hari ini saya menikmati hari saya bersama para bapak-bapak ganteng di department Engineering. Kami main game bahasa bersama dengan menggunakan papan permainanan, koin dua ratus perak, dan token-token kecil berwarna. Ketawa ngakak, saling meledek&#8230; Seru. Sesekali terdengar pesan-pesan tugas dari HT mereka. <em>Tolong, panggil Terminix, di kolam banyak kodoknya. </em>Hampir 2 jam berlalu tanpa terasa. Siapa bilang saya sedang kerja? Saya sedang bersenang-senang dan tetap berguna. <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Di seberang, seorang kolega saya yang berposisi jauh lebih tinggi menenteng laptopnya menuju board room. Seorang kolega lain yang kebetulan lewat menyapanya, &#8220;Eh, tumben ada di sini. Lagi ngapain, Mbak?&#8221; Mungkin sekedar pertanyaan iseng daripada tidak ada sama sekali. Sayang keisengan ini tidak berbalas, karena jawaban yang diterima adalah, &#8220;Ya kerja dong!&#8221; <em>OK deh.</em></p>
<p>Mungkin ada orang yang cukup kokoh dan berenergi dengan bersikap serius setiap saat. Saya pernah seperti itu. Rasanya tidak enak. Mengapa keukeuh pada satu hal, padahal dunia ini menawarkan banyak dimensi warna? Kalau kamu sudah tahu caranya untuk membawakan diri dalam situasi formal, kenapa tidak mencoba untuk gila-gilaan seperti nyemplung di sungai? Mengapa tidak tertawa saja bersama kodok-kodok di kolam itu, yang tidak tahu bahwa sebentar lagi akan dibasmi oleh &#8216;pembunuh bayaran&#8217; Terminix?</p>
<p><em>&#8220;Take yourself lightly. Be an angel.&#8221;</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/herdiasti.wordpress.com/290/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/herdiasti.wordpress.com/290/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/herdiasti.wordpress.com/290/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/herdiasti.wordpress.com/290/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/herdiasti.wordpress.com/290/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/herdiasti.wordpress.com/290/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/herdiasti.wordpress.com/290/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/herdiasti.wordpress.com/290/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/herdiasti.wordpress.com/290/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/herdiasti.wordpress.com/290/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/herdiasti.wordpress.com/290/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/herdiasti.wordpress.com/290/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/herdiasti.wordpress.com/290/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/herdiasti.wordpress.com/290/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=herdiasti.wordpress.com&amp;blog=2072696&amp;post=290&amp;subd=herdiasti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://herdiasti.wordpress.com/2009/01/13/take-yourself-lightly/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/912cb196c92f7d44704c64e4b870d796?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">theatredarling</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>&#8220;Jangan dipaksain&#8230; Nanti stress!&#8221;</title>
		<link>http://herdiasti.wordpress.com/2009/01/03/jangan-dipaksain-nanti-stress/</link>
		<comments>http://herdiasti.wordpress.com/2009/01/03/jangan-dipaksain-nanti-stress/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Jan 2009 01:00:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agnes Herdiasti</dc:creator>
				<category><![CDATA[jurnal]]></category>
		<category><![CDATA[reinkarnasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://herdiasti.wordpress.com/?p=276</guid>
		<description><![CDATA[Belum lama ini seorang teman meminjami saya buku tentang reinkarnasi dan dunia roh. Di dalam buku itu terdapat sebuah contoh kasus di mana seorang ibu yang dihipnotis masuk ke dunia rohnya, mendapati bahwa putranya adalah titisan kakeknya yang selalu melindunginya semasa hidupnya. Kebijakan si kakek terbaca dari tindak-tanduk dan tutur kata bijak dari anak bertubuh mungil [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=herdiasti.wordpress.com&amp;blog=2072696&amp;post=276&amp;subd=herdiasti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-281" title="olga2" src="http://herdiasti.files.wordpress.com/2009/01/olga2.jpg?w=500&#038;h=281" alt="olga2" width="500" height="281" /></p>
<p>Belum lama ini seorang teman meminjami saya buku tentang reinkarnasi dan dunia roh. Di dalam buku itu terdapat sebuah contoh kasus di mana seorang ibu yang dihipnotis masuk ke dunia rohnya, mendapati bahwa putranya adalah titisan kakeknya yang selalu melindunginya semasa hidupnya. Kebijakan si kakek terbaca dari tindak-tanduk dan tutur kata bijak dari anak bertubuh mungil itu, membuat si ibu yakin bahwa ia senantiasa berada dalam lindungan roh yang menyayanginya itu.</p>
<p>&#8220;Mama tuh seperti anakku,&#8221; begitu ucap Olga, anak saya, ketika saya pulang ke Jogja seminggu yang lalu. Saat itu kepala saya ada di pangkuan gadis 10 tahun itu. Itu karena kebiasaan saya bermanja-manja dengannya. Dan Olga tahu bagaimana memanjakan saya. Suatu hari dia memijiti punggung saya. Hari berikutnya dia men-treatment kaki saya &#8211; semacam pedicure, minus aplikasi kuteksnya. Begitupun saya tahu dia sedih ketika saya harus kembali ke Bali, dia tidak menangis, karena dia tahu itu akan membuat saya sedih.</p>
<p>Semalam saya berbicara dengan Olga via telpon. Saya mengatakan rencana saya mencari tempat kos baru. Inilah kata-kata bijak yang keluar dari mulut kecilnya yang sedikit monyong:</p>
<p>&#8220;Mama, cari kos yang bagus. Jangan dipaksain nyari kos yang murah, ya. Mentang-mentang murah, nanti malah bikin stress!&#8221;</p>
<p>Sejenak saya tergoda untuk menggodanya. <em>Eh, anak kecil ngomongnya sok tua nih&#8230; </em>Dan tak urung saya tertawa terbahak, demikian pula dia.</p>
<p>&#8220;Iya, akan mama cam-kan. Mama nggak akan paksain. Mama nggak mau stress,&#8221; kata saya.</p>
<p><em>She&#8217;s lucky to have you, but you&#8217;re luckier to have her. </em>Begitu kata beberapa sahabat saya tentang putri kecil saya yang hebat itu. Seandainya saya bisa sekuat dia: berulang kali merelakan ibunya pergi mencari yang dia cari, dan kini harus hidup menanggung efek perpisahan orangtuanya dan masih bisa mengatakan pada saya untuk terus tersenyum. Dialah tanah bagi unsur kayu saya. Mungkin saja di kehidupan sebelumnya, Olga memang ibu saya.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/herdiasti.wordpress.com/276/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/herdiasti.wordpress.com/276/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/herdiasti.wordpress.com/276/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/herdiasti.wordpress.com/276/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/herdiasti.wordpress.com/276/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/herdiasti.wordpress.com/276/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/herdiasti.wordpress.com/276/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/herdiasti.wordpress.com/276/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/herdiasti.wordpress.com/276/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/herdiasti.wordpress.com/276/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/herdiasti.wordpress.com/276/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/herdiasti.wordpress.com/276/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/herdiasti.wordpress.com/276/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/herdiasti.wordpress.com/276/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=herdiasti.wordpress.com&amp;blog=2072696&amp;post=276&amp;subd=herdiasti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://herdiasti.wordpress.com/2009/01/03/jangan-dipaksain-nanti-stress/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/912cb196c92f7d44704c64e4b870d796?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">theatredarling</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://herdiasti.files.wordpress.com/2009/01/olga2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">olga2</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bau</title>
		<link>http://herdiasti.wordpress.com/2008/12/13/bau/</link>
		<comments>http://herdiasti.wordpress.com/2008/12/13/bau/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Dec 2008 04:13:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agnes Herdiasti</dc:creator>
				<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[waton ngomong]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://herdiasti.wordpress.com/?p=265</guid>
		<description><![CDATA[Saya termasuk orang yang toleran, tapi tidak terlalu untuk masalah bau. Rangsangan bau bisa langsung bereaksi di otak saya, dan lama-terekspose terhadap bau tertentu juga bisa mempengaruhi emosi saya terhadap sesuatu atau seseorang. Mohon maaf, berat bagi saya untuk disebut rasis, tapi bau kadang berhubungan dengan ras. Memang ini generalisasi yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=herdiasti.wordpress.com&amp;blog=2072696&amp;post=265&amp;subd=herdiasti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone" src="http://www.dprophet.com/megsmegs/yuck.jpg" alt="" width="196" height="190" /></p>
<p>Saya termasuk orang yang toleran, tapi tidak terlalu untuk masalah bau. Rangsangan bau bisa langsung bereaksi di otak saya, dan lama-terekspose terhadap bau tertentu juga bisa mempengaruhi emosi saya terhadap sesuatu atau seseorang.</p>
<p>Mohon maaf, berat bagi saya untuk disebut rasis, tapi bau kadang berhubungan dengan ras. Memang ini generalisasi yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya, misalnya Cina=bawang putih, India=kapulaga, Afrika=daging bakar, dll. (Kalau Jawa=daun salam kali ya?) Saya pernah serumah dengan orang Tanzania selama 2 tahun, dan selama itu pula saya harus membiarkan pintu kamar mandi terbuka lebar selama 30 menit setelah dia pakai karena saya tidak tahan aromanya yang berbaur dengan uap panas. Untunglah, hubungan kami tetap baik-baik saja terlepas masalah itu. Satu bis dengan serombongan orang India yang bau minyak dan rempah-rempah membuat saya hemat udara karena kebanyakan menahan napas. Sebaliknya, waktu saya dapat roommate orang Yordania, saya senang sekali karena apartemen saya jadi wangi. Ini karena kebiasaannya mengisap  shisha (rokok Arab) dengan berbagai aroma: apel, coklat, anggur&#8230; yummy!</p>
<p>Salah seorang teman pria pernah berkata di ujung telepon,</p>
<p>&#8220;Gimana sama bauku? Apa kamu suka bauku?&#8221;</p>
<p>&#8220;Baumu nggak masalah. Masih dalam tolerance range saya,&#8221; jawab saya.</p>
<p>Kami tertawa. Walaupun baunya &#8220;tidak masalah,&#8221; tidak ada pengaruhnya dengan status hubungan kami. Statis dan tidak ke mana-mana.</p>
<p>Sebut saja A (halah, kaya awalan cerita kriminal di koran daerah!), yang bersuamikan B. Dulu waktu masih cinta, bau tidak jadi masalah. Saat cinta sudah kadaluarsa, bau bawang putih B jadi menyengat di hidung A dan membuatnya mau muntah. Kasian deh lu, B! Makanya pakai parfum jangan cuma waktu pacaran dong. Tahunan menikah kadang membuat orang lupa mengurus diri (baca: menambahkan &#8216;parfum&#8217; dalam daftar belanja).</p>
<p>Bau juga bisa bikin kita kehilangan rejeki. Dulu pernah saya hampir di-assign untuk mengajar sekelompok murid pendatang dari daerah X (maaf, case sensitive nih). Otak saya langsung mengasosiasikan mereka dengan bau tidak enak. Akhirnya, pekerjaan itu diberikan ke kolega saya yang hidungnya lebih toleran.</p>
<p>Saya berharap indera penciuman saya tidak serewel ini. Tapi apa mau dikata? Dan saya harap, saya cukup menjaga diri saya supaya tidak mencemari udara yang dihirup orang-orang di sekitar saya.  Cuma, sayangnya, saya tidak tahu lagi harus bagaimana (judul lagu pop) kalau ada yang alergi sama bau parfum saya.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/herdiasti.wordpress.com/265/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/herdiasti.wordpress.com/265/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/herdiasti.wordpress.com/265/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/herdiasti.wordpress.com/265/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/herdiasti.wordpress.com/265/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/herdiasti.wordpress.com/265/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/herdiasti.wordpress.com/265/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/herdiasti.wordpress.com/265/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/herdiasti.wordpress.com/265/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/herdiasti.wordpress.com/265/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/herdiasti.wordpress.com/265/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/herdiasti.wordpress.com/265/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/herdiasti.wordpress.com/265/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/herdiasti.wordpress.com/265/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=herdiasti.wordpress.com&amp;blog=2072696&amp;post=265&amp;subd=herdiasti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://herdiasti.wordpress.com/2008/12/13/bau/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/912cb196c92f7d44704c64e4b870d796?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">theatredarling</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.dprophet.com/megsmegs/yuck.jpg" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
